Anak NTB Berobat ke Bali Kesulitan Tempat Tinggal, Pemilik Panti Asuhan Baitul Jannah Harap Pemerintah Bangun Rumah Singgah Khusus

DENPASAR, SIAR POST – Viral kisah anak-anak Panti Asuhan Baitul Jannah asal Taliwang, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), yang harus tinggal di rumah kos warga selama menjalani pengobatan di RSUP Prof. Dr. I.G.N.G. Ngoerah (RS Sanglah), Denpasar, membuka persoalan yang lebih besar.

Di balik kisah itu, muncul harapan agar pemerintah segera menghadirkan rumah singgah khusus anak-anak pasien rujukan asal Nusa Tenggara Barat (NTB) di Bali.

Pemilik Yayasan Baitul Jannah, Patmawati, mengatakan keberadaan rumah singgah menjadi kebutuhan yang sangat mendesak. Menurutnya, banyak keluarga dari Pulau Sumbawa maupun wilayah NTB harus tinggal berbulan-bulan di Bali karena proses pengobatan anak tidak bisa diselesaikan dalam waktu singkat.

“Harapan saya sangat besar agar ada rumah singgah khusus anak-anak di Bali. Jangan bercampur dengan orang dewasa. Mau anak disabilitas atau anak sakit lainnya, mereka membutuhkan tempat yang aman dan nyaman selama menjalani pengobatan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, selama ini informasi yang ia ketahui hanya ada rumah singgah umum. Sementara rumah singgah yang benar-benar diperuntukkan bagi anak-anak pasien rujukan dinilai belum tersedia.

Menurut Patmawati, sedikitnya rumah singgah tersebut idealnya mampu menampung sekitar 10 keluarga pasien.

“Kalau bisa minimal ada 10 kamar. Banyak keluarga dari NTB datang ke Sanglah karena dokter spesialis tertentu belum tersedia di daerah. Mereka harus tinggal cukup lama dan biaya hidup menjadi sangat berat,” katanya.

Patmawati mengaku hingga kini belum sempat menyampaikan usulan tersebut secara langsung kepada Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat maupun Pemerintah Provinsi NTB.

Namun ia berharap pemerintah provinsi bersama seluruh kabupaten/kota di NTB dapat duduk bersama mencari solusi, termasuk kemungkinan berbagi anggaran untuk mengontrak rumah sebagai rumah singgah.

“Kalau belum mampu membangun, mungkin bisa dimulai dengan mengontrak rumah. Yang penting anak-anak kita punya tempat tinggal sementara selama menjalani pengobatan,” katanya.

Pengalaman pribadinya menjadi alasan kuat mengapa rumah singgah dianggap sangat penting. Saat mendampingi anaknya menjalani pengobatan di Jakarta selama dua tahun, ia bahkan mengontrak rumah dua lantai yang juga dimanfaatkan untuk menampung warga asal Sumbawa dan warga dari berbagai daerah yang membutuhkan tempat tinggal dan datang berobat ke Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *