Meski RSUP NTB Kelas A, Ini Sebab Pasien Hidrosefalus Nurhayati Asal KSB Harus Dirujuk ke RSU Sanglah

MATARAM, SIAR POST – Polemik mengenai alasan seorang anak asal Taliwang, Kabupaten Sumbawa Barat, Nurhayati (9), yang mengidap hidrosefalus harus dirujuk dari RSUD Provinsi NTB ke RSUP Prof. dr. I.G.N.G. Ngoerah (Sanglah), Denpasar, akhirnya mendapat penjelasan resmi dari manajemen RSUD Provinsi NTB.

Selama beberapa waktu terakhir, banyak masyarakat mempertanyakan mengapa Nurhayati tidak dapat ditangani di RSUD Provinsi NTB.

Padahal rumah sakit milik Pemerintah Provinsi NTB tersebut merupakan rumah sakit rujukan tertinggi di Nusa Tenggara Barat dengan status Kelas A dan akreditasi Paripurna.

Menjawab pertanyaan tersebut, Wakil Direktur Pelayanan RSUD Provinsi NTB, dr. Adi Wira, menjelaskan bahwa keputusan merujuk pasien sepenuhnya didasarkan pada kebutuhan klinis dan keselamatan pasien, bukan karena rumah sakit tidak mampu menangani seluruh kasus hidrosefalus.

“Dokter spesialis anak di RSUD Provinsi NTB saat ini ada yang sedang menempuh pendidikan subspesialis Neuro Pediatri di Universitas Indonesia. Perkiraan tahun depan baru menyelesaikan pendidikan,” ujar dr. Adi Wira saat diwawancarai, Senin (3/8/2026).

Ia menjelaskan, saat ini RSUD Provinsi NTB telah memiliki dokter spesialis anak dari berbagai divisi serta dokter spesialis bedah saraf yang menangani berbagai kasus penyakit saraf, termasuk tindakan operasi di kepala.

Namun demikian, menurutnya, tidak semua pasien memiliki tingkat kompleksitas yang sama. Dalam kondisi tertentu, pasien membutuhkan penanganan lanjutan oleh dokter subspesialis dengan kompetensi yang lebih spesifik.

“Saat ini penanganan masalah anak kami memiliki spesialis anak dengan beberapa divisi, dan untuk kebutuhan operasi kepala kami memiliki spesialis bedah saraf. Adapun kebutuhan rujukan biasanya terkait kebutuhan klinis pasien untuk mendapatkan penanganan medis tertentu demi keselamatan pasien atau konsultasi kepada spesialis maupun subspesialis dengan kompetensi yang lebih tinggi di rumah sakit tujuan,” jelasnya.

Dr. Adi Wira menegaskan bahwa RSUD Provinsi NTB telah menangani banyak pasien hidrosefalus. Namun apabila seorang pasien dirujuk ke rumah sakit lain, berarti terdapat kebutuhan medis khusus yang memerlukan penanganan subspesialis.

“Tidak semua kasus memiliki kompleksitas yang sama. Banyak pasien hidrosefalus yang ditangani di RSUD Provinsi NTB. Namun jika pasien dirujuk berarti ada kebutuhan klinis pasien yang membutuhkan penanganan lebih lanjut oleh subspesialis yang lebih kompeten. Upaya rujukan adalah ikhtiar untuk keselamatan pasien,” tegasnya.

Sementara itu, perkembangan kondisi Nurhayati di RSUP Sanglah menunjukkan proses penanganan masih terus berjalan. Anak berusia 9 tahun asal Taliwang tersebut kini telah berada di Denpasar selama lebih dari satu bulan untuk menjalani serangkaian pemeriksaan.

Nurhayati telah menjalani pemeriksaan Electroencephalography (EEG) serta kontrol rutin dengan dokter subspesialis neurologi anak. Setelah evaluasi tersebut, tim medis kembali mengarahkan Nurhayati menjalani pemeriksaan darah sebagai tahapan lanjutan sebelum dilakukan Magnetic Resonance Imaging (MRI).

Hasil pemeriksaan darah nantinya akan menjadi dasar bagi dokter untuk menentukan jadwal pelaksanaan MRI guna memastikan kondisi otak Nurhayati secara lebih menyeluruh sebelum menentukan langkah terapi berikutnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *