Karena itu, bagi masyarakat Taliwang, Panser bukan sekadar nama klub. Panser adalah bagian dari sejarah sepak bola daerah.
Kalah di Lapangan, Tak Kalah dalam Perjuangan
Kekalahan 0-3 dari Bomber memang terasa menyakitkan. Perjalanan Panser di Piala Soeratin 2026 harus berakhir di babak delapan besar. Namun, ada sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar angka di papan skor.
Panser datang dengan persiapan singkat. Bertanding tanpa sokongan dana besar. Perjalanan ke Mataram bahkan ditopang oleh patungan orang tua pemain.
Tetapi mereka mampu melewati fase demi fase dan akhirnya berdiri di antara delapan tim terbaik dalam kompetisi tersebut.
Dan ketika peluit panjang berbunyi, satu hal tetap bertahan.
Nama Panser tetap menggema dari tribun GOR Turida, diteriakkan oleh supporter yang sejak dulu mencintai klub berlambang tank tersebut.
Panser boleh tumbang di delapan besar. Tetapi bagi mereka yang mencintainya, Panser belum selesai. Sebab sejak 1999 hingga hari ini, Panser bukan hanya sebuah klub sepak bola.
Panser adalah cerita panjang, kebanggaan, dan nama besar yang terus hidup di hati masyarakat Taliwang. (Red)














