Jurnalis Senior NTB Muslim Hamzah Wafat, Dunia Pers Kehilangan Penulis Sejarah yang Humoris dan Rendah Hati

Almarhum Muslimin Hamzah (kiri) Foto bersama anggota DPRD Provinsi NTB beberapa waktu lalu. (Dok. Facebook/O Bima).

MATARAM, NTB (SIAR POST) – Kabar duka menyelimuti dunia jurnalistik di Nusa Tenggara Barat. Jurnalis senior Muslim Hamzah meninggal dunia pada Senin siang setelah menjalani perawatan intensif di RSUD Provinsi NTB.

Almarhum menghembuskan napas terakhir di usia sekitar 65 tahun, setelah beberapa minggu dirawat akibat gangguan pada paru-paru. Berdasarkan informasi yang diperoleh, dokter menemukan adanya cairan di paru-paru yang sempat disedot dan ditangani melalui tindakan medis.

Meski sempat menjalani operasi dan perawatan intensif selama beberapa minggu, kondisi kesehatannya terus menurun hingga akhirnya wafat.

Kepergian Muslim Hamzah menjadi kehilangan besar bagi dunia pers di NTB. Sosoknya dikenal sebagai jurnalis senior yang telah melanglang buana di dunia jurnalistik dan meninggalkan banyak karya penting, khususnya dalam bidang penulisan sejarah lokal.

Beberapa karya yang banyak diperbincangkan seperti buku berjudul “Dompu Lebih Tua dari Bima” dan “Sang Bima Manusia Gadungan” Serta “Ncuhi Cuma Ilusi”. Buku tersebut sempat menjadi buah bibir karena memuat catatan sejarah yang memantik diskusi publik dan memperkaya kajian sejarah di wilayah Bima dan Dompu.

Tak hanya dikenal sebagai penulis yang tajam, Muslim Hamzah juga dikenang sebagai sosok yang ramah, humoris, dan terbuka kepada siapa pun. Banyak jurnalis muda maupun senior menjadikannya sebagai panutan dalam menjalankan profesi kewartawanan.

Jurnalis senior asal Bima, Muhammad Rum, mengaku sangat terpukul atas kepergian sahabatnya tersebut. Ia mengatakan hubungan komunikasi dengan almarhum terjalin sangat dekat, baik dalam urusan pribadi maupun berbagai persoalan yang menyangkut masyarakat NTB.

“Saya sangat terpukul karena ini terasa mendadak. Almarhum tiba-tiba sakit, dirawat, lalu meninggal dunia. Padahal sebelumnya kami sering bertemu, jalan bersama dan berdiskusi,” ungkap Rum dengan suara bergetar.

Menurutnya, Muslim Hamzah bukan hanya sekadar jurnalis, tetapi juga sosok pemikir yang banyak memberikan perspektif tentang sejarah dan dinamika sosial di NTB.

Suasana duka juga terlihat di tengah keluarga yang ditinggalkan. Istri, anak-anak, dan keluarga besar almarhum tampak sangat terpukul atas musibah ini.

Kepergian Muslim Hamzah meninggalkan jejak panjang dalam dunia jurnalistik dan penulisan sejarah di NTB.

Catatan-catatan yang pernah ia tulis kini menjadi warisan berharga bagi generasi berikutnya. Doa pun mengalir dari para sahabat, kolega, dan masyarakat yang mengenalnya.

Semoga almarhum diberikan tempat terbaik di sisi Allah SWT, diampuni segala dosa-dosanya, serta keluarga yang ditinggalkan, istri, anak-anak, dan keluarga besar diberikan ketabahan dan kesabaran dalam menghadapi cobaan ini. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *