Lombok Utara, NTB (SIARPOST) – Pengamanan rangkaian kegiatan pawai Ogoh-ogoh dan pawai Takbiran Idul Fitri di Kabupaten Lombok Utara tahun ini disiapkan lebih ketat. Pemerintah daerah melalui Satpol PP bersama aparat keamanan melakukan sejumlah penyesuaian, mulai dari waktu pelaksanaan, jalur pawai, hingga larangan penggunaan petasan demi menjaga ketertiban dan keharmonisan masyarakat.
Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Lombok Utara, Totok Surya Saputra, mengatakan pihaknya telah menggelar rapat koordinasi dengan berbagai pihak untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan aman.
“Untuk pengamanan Ogoh-ogoh dan Takbiran, kami sudah melakukan rapat khusus bersama stakeholder lain seperti Kepolisian, TNI, serta OPD teknis. Pada prinsipnya, Satpol PP akan berpartisipasi penuh dalam pengamanan kegiatan tersebut,” ujarnya,Senin 16/03/2026
Pelaksanaan pawai Ogoh-ogoh tahun ini tidak akan sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Mengingat kegiatan berlangsung di bulan Ramadan, panitia dan aparat keamanan sepakat untuk mempercepat waktu pelaksanaan serta membatasi atraksi di jalan.
Pawai akan dimulai lebih awal dan menggunakan satu jalur saja. Setelah dilepas dari titik awal, peserta tidak kembali ke Lapangan Tanjung, tetapi langsung menuju wilayah masing-masing.
“Kegiatan diupayakan selesai sebelum waktu berbuka puasa. Jadi tidak ada atraksi berlebihan di jalan seperti sebelumnya,” jelas Totok.
Sementara itu, untuk pawai Takbiran menjelang Idul Fitri, pemerintah daerah juga memutuskan untuk mengubah jalur pawai. Jalur lama yang melewati kawasan permukiman tidak lagi digunakan.
Rute baru hanya menggunakan jalan utama. Peserta pawai akan berangkat dari Lapangan Tanjung, kemudian berbelok di depan Sayurku, melanjutkan hingga kawasan SD Tanah Song di ujung jalur, sebelum akhirnya kembali lagi ke Lapangan Tanjung.
Perubahan ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap umat Hindu yang merayakan Hari Raya Nyepi.
“Kami tidak lagi menggunakan jalur yang melewati perumahan warga, mengingat di jalur lama banyak saudara kita umat Hindu yang dilalui,” katanya.
Dalam pengamanan dua agenda besar tersebut, Satpol PP Lombok Utara menyiagakan sekitar 240 personel, termasuk anggota Satlinmas di desa-desa yang akan membantu pengamanan di tingkat kecamatan.
Personel tersebut akan bersinergi dengan TNI, Polri, Dinas Perhubungan, serta instansi lainnya.
“Kekuatan Satpol PP sekitar 240 orang, termasuk Satlinmas di desa yang membantu pengamanan Takbiran di kecamatan. Sebagian personel juga masih menjalankan BKO di pos-pos Polres serta patroli malam,” ungkap Totok.
Namun ia mengakui, jumlah personel pada pawai Takbiran kemungkinan sedikit berkurang apabila pelaksanaannya bertepatan dengan Hari Raya Nyepi, karena sebagian anggota Satpol PP yang beragama Hindu tidak dapat bertugas.
“Meski begitu, kami tetap berkomitmen mendukung pengamanan secara maksimal,” tegasnya.
Selain pengamanan jalur dan personel, pemerintah juga memberikan perhatian khusus terhadap potensi gangguan keamanan, terutama penggunaan petasan.
Satpol PP mengimbau seluruh peserta pawai dan masyarakat yang menonton agar tidak membawa maupun menyalakan petasan selama kegiatan berlangsung.
“Petasan selain berbahaya juga bisa mengganggu ketertiban. Apalagi saat Takbiran banyak lampion dari bahan kertas yang berpotensi terbakar. Jika ditemukan, tentu akan menjadi atensi pihak Kepolisian,” kata Totok.
Menurutnya, larangan tersebut juga menjadi bagian dari upaya menjaga kondusivitas daerah, terutama saat masyarakat Muslim merayakan Idul Fitri dan umat Hindu menjalankan Nyepi secara bersamaan.
“Kita ingin semua kegiatan berjalan aman, tertib, dan saling menghormati,” pungkasnya.(Niss)














