Dari Debur Ombak Pesisir: Mimpi Besar Jauhari Bangun Universitas Teknologi Terapung di NTB

Founder Sekolah Pesisi Juang, Jauhari Tantowi (kanan). (dok.Istimewa)

MATARAM, SIAR POST — Angin laut di pesisir Ampenan sore itu berembus pelan, seolah ikut merayakan langkah seorang anak muda yang tak pernah berhenti bermimpi. Di usianya yang genap 28 tahun, Jauhari Tantowi tidak meminta kado mewah.

Ia justru menegaskan satu hal yang selama ini diam-diam ia rawat, membangun universitas berbasis teknologi pesisir. Bahkan, suatu hari nanti, universitas terapung.

Mimpi itu terdengar besar. Bahkan bagi sebagian orang, mungkin terlalu jauh. Tapi bagi Jauhari, mimpi itu justru terasa sangat dekat, karena ia sudah memulainya sejak enam tahun lalu, dari sebuah gerakan kecil bernama Sekolah Pesisir Juang.

Dari Keterbatasan, Lahir Inovasi

Di tengah keterbatasan akses pendidikan di wilayah pesisir, Sekolah Pesisi Juang hadir bukan sekadar sebagai tempat belajar. Ia menjadi ruang harapan. Tempat di mana anak-anak yang dulu dipandang sebelah mata, kini mulai berani bermimpi lebih tinggi.

“Dulu mereka dibilang anak pesisir tidak punya masa depan. Sekarang mereka yang membuktikan sendiri bahwa itu salah,” kata Jauhari pelan.

Bukan tanpa alasan. Saat ini, Sekolah Pesisi Juang tengah mengembangkan sebuah inovasi yang bahkan belum pernah ada di Indonesia yakni alat pendeteksi banjir rob berbasis real-time.

Alat ini bukan sekadar proyek biasa. Ia kini menjadi salah satu prioritas riset nasional dan tengah dalam proses menuju skala industri.

Berbeda dengan alat pendeteksi tsunami yang fokus pada pasang surut terendah, teknologi yang dikembangkan tim Sekolah Pesisir Juang justru membaca potensi pasang tertinggi yang menjadi pemicu utama banjir rob.

Bagi Jauhari, teknologi hanyalah satu bagian dari perjalanan panjangnya. Fondasi utama yang ia bangun adalah manusia.
Ia percaya, perubahan besar tidak lahir dari gedung megah, tapi dari kualitas sumber daya manusia.

“Saya ingin membangun pendidikan yang berkeadilan. Semua anak di NTB harus punya kesempatan yang sama untuk berkembang,” ujarnya.

Di Sekolah Pesisi Juang, anak-anak tidak hanya belajar teori. Mereka didorong untuk menemukan potensi diri. Ada yang belajar desain, menjahit, hingga teknologi.

Salah satu kisah yang kini menjadi kebanggaan adalah Nurul, siswi kelas 3 SMA yang tumbuh menjadi desainer berbakat.

Ia bahkan mendapat kesempatan untuk diperkenalkan dengan desainer ternama di Inggris, sebuah peluang yang membuka jalan untuk bekerja sambil melanjutkan pendidikan di luar negeri.

Tak hanya itu, beberapa siswa lainnya juga berhasil menembus beasiswa hingga ke Malaysia.

Menjemput Masa Depan dari Pulau-Pulau Kecil

Langkah Jauhari tidak berhenti di Ampenan. Ia mulai merancang ekspansi Sekolah Pesisir Juang ke pulau-pulau kecil yang minim akses pendidikan. Di tempat-tempat itulah, ia melihat potensi besar yang selama ini terabaikan.

“Banyak anak punya bakat, tapi tidak punya akses. Di situlah kami hadir,” katanya.

Fasilitas sederhana seperti laptop, ruang belajar, hingga pendampingan menjadi alat untuk membuka jalan masa depan mereka.

Di usia yang masih muda, Jauhari tidak ragu menggantungkan mimpinya lebih tinggi, membangun universitas berbasis teknologi pesisir, bahkan dengan konsep terapung.

Sebuah gagasan yang mungkin terdengar mustahil. Tapi baginya, setiap langkah kecil hari ini adalah bagian dari jalan menuju ke sana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *