Lombok Utara,SIARPOST – Bupati KLU H.Najmul Akhyar mendampingi Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) RI Dr Ir ,Dadan Hindayana meresmikan Dapur SPPG Revolusi Putih 3T di Dusun Gitak Demung, Desa Genggelang, Kecamatan Gangga, Senin 12/5/2026
Peresmian ini menjadi bagian dari percepatan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) di Indonesia.
Berbeda dari sekadar agenda peresmian biasa, kehadiran dapur SPPG 3T di Lombok Utara disebut sebagai langkah strategis membangun kualitas sumber daya manusia dari desa-desa yang selama ini menghadapi tantangan akses layanan gizi dan distribusi pangan.
Dalam sambutannya, Bupati Najmul menegaskan bahwa pembangunan daerah tidak cukup hanya mengandalkan sektor pendidikan, tetapi juga harus ditopang pemenuhan gizi yang memadai sejak usia dini.
“Kualitas sumber daya manusia tidak dapat dibangun hanya melalui pendidikan. Anak-anak juga membutuhkan asupan gizi yang cukup, lingkungan sehat, dan dukungan sosial yang kuat,” ujarnya.
Menurut Najmul, Lombok Utara memiliki modal sosial dan sumber daya alam yang besar, namun perlu diperkuat dengan program yang tepat sasaran agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat, khususnya anak-anak di wilayah 3T.
Ia menilai keberadaan dapur SPPG tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyedia makanan bergizi, tetapi juga dapat menjadi pusat gerakan sosial untuk meningkatkan kesadaran gizi, memperkuat pangan lokal, hingga membuka ruang kolaborasi antara pemerintah, petani, sekolah, pelaku usaha lokal, dan masyarakat.
“Kita ingin ada dampak langsung terhadap peningkatan kualitas gizi anak-anak, penguatan ketahanan pangan lokal, dan pemberdayaan masyarakat sekitar,” katanya.
Sementara itu, Kepala BGN RI Dadan Hindayana menyebut Program Makan Bergizi Gratis merupakan jawaban pemerintah terhadap tantangan kualitas generasi Indonesia di masa depan. Ia mengungkapkan, Indonesia melahirkan sekitar tiga juta anak setiap tahun sehingga kebutuhan gizi menjadi persoalan mendasar yang harus dipenuhi secara merata hingga pelosok negeri.
“Melalui MBG, kebutuhan gizi masyarakat bisa terpenuhi sampai ke daerah-daerah terpencil,” jelasnya.
Dadan memaparkan, saat ini jumlah SPPG di Indonesia telah mencapai 28.390 unit dan melayani sekitar 62,2 juta penduduk. Ia menyebut percepatan program tersebut menjadi salah satu yang tercepat yang pernah dijalankan dalam skala global.
Tak hanya berdampak pada kesehatan, program SPPG juga mulai menggerakkan ekonomi daerah. Di Nusa Tenggara Barat sendiri telah berdiri 824 SPPG dengan perputaran anggaran mencapai sekitar Rp824 miliar per bulan.
Menurutnya, sekitar 70 persen anggaran SPPG digunakan untuk membeli bahan baku lokal seperti beras, telur, sayur, buah, ikan, dan daging. Kondisi itu dinilai mampu memicu tumbuhnya produktivitas masyarakat dan memperkuat ekonomi lokal di sekitar wilayah program.
“Kehadiran SPPG bukan hanya soal makanan bergizi, tetapi juga menghidupkan ekonomi masyarakat karena miliaran rupiah berputar di daerah,” tutupnya.(Niss)














