Viral Kisah Nadia, Bocah 11 Tahun Rawat Empat Adik dan Rela Jalan Kaki Jualan Sabun Demi Bertahan Hidup

SIAR POST | Di usia yang baru menginjak 11 tahun, seharusnya Nadia masih menikmati masa kecil bersama teman-temannya. Namun kenyataan hidup memaksanya tumbuh lebih cepat.

Siswi kelas 5 sekolah dasar yang berasal dari medan itu kini menjadi sosok yang bertanggung jawab atas kehidupan empat adiknya setelah kedua orang tuanya meninggal dunia.

Nadia memiliki empat adik, yaitu Saskia (9), Satria (6), Muhammad Rafi (4), dan Haris Pratama yang baru berusia 1 tahun. Mereka kini hidup tanpa ayah dan ibu.

Sang ayah meninggal dunia sekitar delapan bulan lalu akibat sakit sesak napas. Kesedihan keluarga itu semakin bertambah ketika satu bulan lalu ibu mereka juga meninggal dunia setelah berjuang melawan penyakit liver dan pembengkakan jantung.

Sejak saat itu, Nadia harus menjalankan peran yang jauh melampaui usianya. Setiap pagi ia bangun lebih awal untuk memandikan adik-adiknya, menyiapkan makanan seadanya, dan memastikan mereka dalam keadaan baik sebelum dirinya berangkat ke sekolah.

Karena tidak memiliki siapa pun yang bisa menjaga adik bungsunya, Nadia sering menitipkan mereka kepada tetangga.

Sepulang sekolah, ia tidak bisa beristirahat. Ia langsung membawa sabun dagangannya untuk dijual secara keliling di pasar dan tempat-tempat ramai.

Tak jarang, Nadia harus menggendong Haris yang masih balita sambil berjalan kaki menempuh perjalanan yang sangat jauh karena tidak ada orang yang bisa menjaganya di rumah.

Keuntungan dari setiap sabun yang dijual hanya sekitar Rp500. Dalam sehari biasanya ia mampu menjual sekitar 15 sabun.

Penghasilannya sangat kecil dan hanya cukup untuk membeli kebutuhan pokok seadanya. Sebagian uang itu juga harus disisihkan untuk membayar tagihan listrik.

Keterbatasan ekonomi membuat Nadia dan adik-adiknya sering hanya makan nasi dengan kecap. Bahkan tidak jarang mereka harus menahan lapar karena tidak ada makanan yang bisa dimasak.

Akibat sering kekurangan makanan, adik-adiknya kerap mengeluh sakit perut. Saat salah satu adiknya mengalami demam tinggi pada malam hari, Nadia hanya mampu memberikan minum air putih, mengompres dengan air hangat, dan menggunakan bawang sebagai obat tradisional.

Ia tidak membawa adiknya ke fasilitas kesehatan karena tidak memiliki uang untuk biaya berobat.
Di sekolah pun Nadia masih harus menahan luka batin.

Ia mengaku sering diejek teman-temannya karena sudah tidak memiliki ayah dan ibu. Setiap kali mendengar ejekan itu, Nadia hanya mampu menahan tangis.

Baginya, kehilangan kedua orang tua di usia yang masih sangat muda merupakan cobaan yang begitu berat.

Meski demikian, Nadia tidak menyerah. Demi memastikan keempat adiknya tetap bisa makan dan bertahan hidup, ia terus berjualan sabun setiap hari.

Perjuangan bocah kecil ini menjadi potret nyata tentang besarnya kasih sayang seorang kakak yang rela mengorbankan masa kecilnya demi menjaga keluarganya tetap bertahan. (RED)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *