FGD NTB Dalam Angka 2023, Dr Najam Harap Seluruh OPD Melengkapi Data Sektoral

 

 

Mataram, SIARPOST — Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) melalui Kepala Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik, Dr. Najamuddin Amy, S.Sos.,M.M mengajak seluruh OPD untuk segera melengkapi data sektoral yang diminta.

Hal itu disampaikan pada saat Menghadiri Focus Group Discussion (FGD ) Publikasi Provinsi NTB Dalam Angka 2023 di Hotel Prime Park & Convention Lombok, Kamis (16/02).

“Kami harap seluruh OPD segera menyelesaikan data-data sektoral yang diminta agar segera di benahi, ditelusuri, dilengkapi, dengan begitu kita akan cepat berkontribusi untuk melahirkan buku data dalam angka yang akan diterbitkan secara resmi oleh Badan Pusat Statistik Provinsi NTB,” ungkap Dr Najam.

Sebagaimana diketahui bahwa data merupakan hal yang sangat penting untuk mengetahui perkembangan suatu daerah. Data sangat penting untuk dimengerti dan dikuasai jika ingin menguasai suatu perubahan.

“BPS sungguh sangat luar biasa memberikan kontribusi yang patut kita apresiasi bersama. Kontribusi nyata yang kita liat misalnya adalah setiap selesai nasional dan internasional event dilaksanakan mulai dari WSBK pertama hingga MXGP Samota, selalu ada hasil yang diberikan sehingga rasa kepercayaan diri di NTB ini sudah on the track, kemudian disampaikan hal-hal yang baik bagi masyarakat kita”, tambahnya.

Hingga saat ini melalui data, NTB memiliki 9 internasional event yang masuk ke dalam karisma event Nusantara dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, ini adalah jumlah yang paling banyak dari beberapa daerah di Indonesia.

Kepala BPS Provinsi NTB, Drs. Wahyudin, MM juga menjelaskan bahwa peran data sektoral sangat penting dalam mendukung perencanaan pembangunan daerah.

Beberapa contoh rilis data BPS yang bisa digunakan untuk bahan penyusunan perencanaan pembangunan dengan didukung data sektoral yang relevan.

Misalnya Hasil Long Form Sensus Penduduk (SP) 2020. Untuk Indikator Fertilas, Total Fertility Rate (TFR) Provinsi NTB Hasil Long Form SP2020 menurun dalam lima dekade terakhir. Sensus penduduk 1971 mencatat angka TFR sebesar 6.66 yang berarti seorang perempuan melahirkan 6-7 anak selama masa reproduksinya. Sementara Long Form SP2020 mencatat TFR sebesar 2.43, yang berarti hanya sekitar 2-3 anak yang dilahirkan perempuan selama reproduksinya.

Sedangkan untuk indikator Mortalitas, Infant Mortality Rate (IMR) menyebutkan Angka Kematian Bayi (AKB) menurun signifikan dari 48 per 1000 kelahiran hidup dari sensus penduduk 2010 menjadi 24.64 per 1000 kelahiran hidup pada Long Form SP2020. Perbaikan sarana dan pra sarana kesehatan serta meningkatnya kualitas hidup perempuan di NTB membuat anak yang baru lahir semakin mampu bertahan hidup.

Kemudian selain itu juga ada indikator pendidikan juga Tingkat Pertumbuhan Ekonomi. (Diskominfotik)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *