Rocket Stove Jadi Jawaban Masalah Sampah di Desa Tanjung, Inovasi Mahasiswa KKN UNRAM

Lombok Utara,SIARPOST— Persoalan sampah rumah tangga yang kian mengkhawatirkan di Desa Tanjung, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara, mendorong mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Universitas Mataram (UNRAM) menghadirkan solusi sederhana namun berdampak nyata. Melalui inovasi rocket stove, mahasiswa KKN berupaya menekan praktik pembakaran sampah terbuka yang selama ini mencemari lingkungan dan mengganggu kesehatan warga.

Rocket stove merupakan alat pembakaran sampah dengan teknologi draft vertikal yang mampu menghasilkan api lebih cepat, pembakaran lebih bersih, serta minim asap. Teknologi ini dinilai relevan dengan kondisi desa, mengingat selama ini sampah rumah tangga masih banyak ditangani dengan cara ditumpuk di pekarangan, dibuang ke sungai, lahan kosong, atau dibakar secara terbuka.

Ketua KKN UNRAM Desa Tanjung, Zulfahmi, menjelaskan bahwa program ini berangkat dari meningkatnya volume sampah rumah tangga di Lombok Utara. Berdasarkan data yang ada, Kabupaten Lombok Utara menghasilkan sekitar 108,79 ton sampah per hari, dengan Desa Tanjung menjadi salah satu penyumbangnya.

“Dari hasil survei awal, kami menemukan banyak fasilitas pengelolaan sampah seperti bank sampah dan TPS 3R sudah tidak aktif. Kondisi ini membuat pengelolaan sampah semakin tidak terkendali,” ujar Zulfahmi saat diwawancarai.

Melalui pendekatan Zero Waste, mahasiswa KKN memilih rocket stove karena menggunakan bahan sederhana, biaya terjangkau, dan dapat direplikasi secara mandiri oleh masyarakat. Pembangunan satu unit rocket stove sebagai proyek percontohan dimulai pada Jumat, 23 Januari 2026, dan rampung pada malam hari. Proses uji coba dilakukan pada Senin, 26 Januari 2026 untuk memastikan alat berfungsi optimal.

Rocket stove dibangun menggunakan bata ringan (hebel) sebagai bahan utama, perekat, tulangan besi sebagai penyangga sampah, serta sedikit semen untuk pondasi agar lebih kokoh. Total estimasi biaya pembangunan mencapai Rp1.746.000, dengan rincian Rp1.200.000 untuk hebel satu kubik, Rp350.000 biaya tukang, Rp145.000 perekat, dan Rp51.000 untuk besi.

“Kami sengaja menggunakan material yang mudah ditemukan agar warga bisa meniru dan membangun sendiri tanpa ketergantungan,” tambah Zulfahmi.

Program ini tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik. Sebelumnya, pada 12 Januari 2026, mahasiswa KKN telah melakukan sosialisasi kepada masyarakat mengenai pemilahan sampah, jenis sampah yang boleh dibakar dalam rocket stove, serta cara penggunaan yang aman. Sampah yang dibakar pun dibatasi pada jenis tertentu agar tetap sejalan dengan prinsip Zero Waste, yakni mengurangi sampah sejak dari sumbernya.

Dalam proses pembangunan, mahasiswa KKN melibatkan tukang serta sejumlah warga setempat. Keterlibatan langsung warga ini menjadi sarana edukasi, sekaligus upaya menumbuhkan kesadaran kolektif akan pentingnya pengelolaan sampah yang lebih bertanggung jawab.

Peresmian rocket stove dilakukan pada Kamis, 29 Januari 2026, bersama Kepala Desa Tanjung, unsur keamanan masjid, serta 17 kepala dusun. Meski baru dibangun satu titik sebagai sampel, keberadaan rocket stove diharapkan mampu mengurangi praktik pembakaran sampah terbuka yang selama ini menjadi sumber polusi udara.

“Harapan kami, ini bukan hanya soal alat, tapi perubahan pola pikir masyarakat. Lingkungan bersih tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah, tapi harus dimulai dari kesadaran bersama,” pungkas Zulfahmi.

Melalui inovasi ini, mahasiswa KKN UNRAM berharap Desa Tanjung dapat melangkah menuju lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan, sejalan dengan semangat Program Zero Waste.(Niss)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *