Lombok Utara, NTB (SIARPOST) – Kasus dugaan perundungan yang berujung pada kekerasan fisik terhadap seorang siswa Di smp 2 tanjung bernama R menuai perhatian.
Insiden tersebut tidak hanya menyisakan trauma bagi korban, tetapi juga memunculkan sorotan terhadap sikap pihak sekolah yang dinilai kurang responsif dalam menangani kejadian tersebut.
Ibu korban, Sarni, menceritakan bahwa peristiwa itu bermula dari ejekan yang dilontarkan oleh seorang anak berinisial ZQ kepada inisial R.
Dalam ejekan tersebut, pelaku disebut melontarkan kata-kata yang dianggap merendahkan.“Dia bilang ke anak saya, ‘Kamu itu kayak prindavan, rambut kamu kayak kuda.’ Dari situ mereka cekcok,” ujar Sarni saat menceritakan kejadian yang dialami anaknya, pada sabtu (7/3/2026).
Menurut Sarni, cekcok tersebut kemudian berujung pada aksi kekerasan. R disebut ditonjok oleh pelaku hingga terjatuh.
Tidak berhenti di situ, korban juga diinjak-injak hingga akhirnya pingsan. Setelah mengetahui kejadian tersebut, keluarga korban berupaya mencari penjelasan dengan mendatangi sekolah tempat anak mereka belajar.
Namun pada hari pertama, keluarga mengaku tidak menemukan satu pun guru di sekolah tersebut. Keesokan harinya, keluarga kembali datang dengan harapan bisa bertemu langsung dengan kepala sekolah untuk meminta klarifikasi terkait kejadian yang dialami Rian.
Namun menurut Sarni, kepala sekolah disebut menolak untuk bertemu. “Kepala sekolah hanya menitipkan pesan melalui guru lain. Katanya beliau tidak mau ditemui dan menyarankan kami langsung berurusan dengan pihak pelaku,” ungkap Sarni.
Sikap tersebut membuat keluarga korban merasa kecewa. Pasalnya, menurut mereka, sekolah seharusnya memiliki tanggung jawab dalam menangani persoalan yang terjadi di lingkungan sekolah, terutama yang melibatkan keselamatan siswa.
Karena tidak mendapatkan respons yang diharapkan dari pihak sekolah, orang tua korban akhirnya memutuskan untuk melaporkan kejadian tersebut ke pihak kepolisian.
Sarni juga mengungkapkan bahwa selama lebih dari satu bulan sejak kejadian itu berlangsung, pihak sekolah tidak pernah datang menjenguk ataupun menanyakan kondisi Rian di rumah.
Dalam kurun waktu tersebut, R disebut tidak masuk sekolah karena masih mengalami trauma. Namun pihak sekolah dinilai tidak menunjukkan upaya untuk mencari tahu kondisi siswanya.
“Anak saya tidak masuk sekolah, tapi tidak ada dari pihak sekolah yang datang atau menanyakan kondisinya,” kata Sarni.














