Dompu, NTB (SIAR POST) – Kabar duka menyelimuti dunia pendidikan di Kabupaten Dompu. Abdul Ajis SPd, mantan Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Woja, meninggal dunia pada Jumat (13/3/2026) di RSUD Dompu setelah beberapa hari menjalani perawatan intensif.
Almarhum yang lahir pada 19 Oktober 1962 itu sebelumnya dilarikan ke rumah sakit setelah mendadak jatuh sakit.
Setelah menjalani pemeriksaan medis, dokter mendiagnosis Abdul Ajis menderita gagal ginjal stadium 5.
Kondisinya yang terus menurun membuat tim medis harus melakukan perawatan intensif selama beberapa hari terakhir.
Kepergian sosok guru yang dikenal disiplin dan penuh dedikasi itu meninggalkan duka mendalam bagi keluarga. Istri dan anak-anaknya tampak sangat terpukul atas kepergian kepala keluarga yang selama ini menjadi panutan dan kebanggaan keluarga.
Abdul Ajis dikenal sebagai sosok pendidik yang baik, tegas namun penuh perhatian kepada murid dan rekan kerjanya.
Selama mengabdikan diri di dunia pendidikan, ia dikenal memiliki komitmen kuat dalam membangun kedisiplinan dan karakter siswa.
Di tengah masyarakat, almarhum juga dikenal sebagai pribadi yang ramah dan sederhana. Banyak warga mengenangnya sebagai sosok pekerja keras yang selalu bersikap baik kepada siapa pun.
Ucapan belasungkawa juga datang dari masyarakat Dompu dan keluarga yang berada di Mataram. Mereka turut berduka atas kepergian sosok guru yang dinilai telah memberikan kontribusi besar bagi dunia pendidikan di Dompu.
“Beliau orang yang sangat baik, sederhana, dan pekerja keras. Kami sangat kehilangan,” ungkap salah satu warga Dompu di Mataram.
Semasa hidupnya, Abdul Ajis meninggalkan seorang istri dan tiga orang anak, yakni Rangga, Rio, dan Mecy. Putri bungsunya, Mecy, yang saat ini masih menempuh pendidikan di bangku kuliah, terlihat sangat terpukul atas kepergian ayah tercintanya.
Saat ini jenazah almarhum disemayamkan di rumah duka di Kelurahan Simpasai. Rencananya, jenazah Abdul Ajis SPd akan dimakamkan pada Sabtu (14/3/2026) di tempat pemakaman umum (TPU) terdekat di wilayah Simpasai.
Kepergian Abdul Ajis menjadi kehilangan besar, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi masyarakat dan dunia pendidikan di Dompu yang selama ini mengenal almarhum sebagai guru berdedikasi dan teladan. (RED)














