SUMBAWA BARAT, NTB (SIAR POST) – Keluhan anak-anak muda di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) yang merasa sulit mendapatkan pekerjaan akhirnya mendapat respons dari pemerintah daerah. Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Nakertrans) KSB, Slamet Riadi, menegaskan bahwa pemerintah saat ini tengah menyiapkan berbagai langkah konkret untuk membuka peluang kerja bagi masyarakat lokal.
Menurut Slamet, persoalan pengangguran di KSB bukan semata karena tidak adanya lapangan pekerjaan, melainkan adanya ketidaksesuaian antara kebutuhan industri dengan kompetensi tenaga kerja yang tersedia.
“Pemerintah saat ini sedang berupaya menyiapkan kesempatan kerja bagi angkatan kerja di KSB. Salah satunya melalui peningkatan kompetensi dan skill sesuai kebutuhan pasar kerja, baik di sektor industri maupun sektor lainnya,” ujarnya saat diwawancarai beberapa waktu lalu.
Ia menjelaskan, strategi yang dilakukan tidak hanya fokus pada pelatihan biasa, tetapi diarahkan pada program yang langsung terhubung dengan dunia kerja.
Di antaranya adalah pelatihan kerja berbasis penempatan, program pemagangan, hingga membuka peluang kerja ke luar negeri.
Langkah ini diharapkan mampu menjawab keluhan masyarakat yang selama ini merasa “hanya jadi penonton di tanah sendiri” di tengah masuknya investasi dan berkembangnya sektor industri di KSB.
Tak hanya itu, Pemkab Sumbawa Barat juga tengah mempersiapkan revitalisasi Balai Latihan Kerja (BLK) sebagai pusat peningkatan keterampilan tenaga kerja lokal.
“Tahun ini kita mulai sambil mempersiapkan revitalisasi pembangunan BLK, sehingga ke depan pelatihan yang diberikan benar-benar sesuai dengan kebutuhan pasar,” jelasnya.
Dalam waktu dekat, program nyata juga mulai dijalankan. Pada 9–11 April 2026, Nakertrans KSB akan melaksanakan program beasiswa kerja sama dengan PT Amman Mineral, PT United Tractors, dan BLK Sumbawa Barat.
Program ini diharapkan menjadi pintu masuk bagi generasi muda untuk mendapatkan pelatihan sekaligus peluang kerja yang lebih terarah.
Respons ini menjadi angin segar di tengah keresahan para pencari kerja di KSB. Sebelumnya, banyak anak muda mengaku kesulitan mendapatkan pekerjaan meskipun memiliki pengalaman kerja maupun latar belakang pendidikan yang memadai.
Dengan berbagai program yang mulai dijalankan, pemerintah berharap tidak hanya mampu menekan angka pengangguran, tetapi juga memastikan masyarakat lokal bisa menjadi pelaku utama dalam pembangunan di daerahnya sendiri.
“Harapannya, tenaga kerja lokal bisa lebih siap, kompetitif, dan benar-benar terserap di dunia kerja,” tutup Slamet. (Red)














