Banjir Sumbawa Barat Kembali Terjadi, Bendungan Berfungsi kah? Ini Penyebabnya

 

Sumbawa Barat, SIARPOST | Banjir yang melanda Kabupaten Sumbawa Barat pada Senin (13/2/2023) kemarin menyisakan pertanyaan besar bagi publik. Bagaimana tidak, padahal bendungan Bintang Bano sudah terbangun kokoh di Kabupaten tersebut, namun masih saja banjir melanda.

Menurut data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbawa Barat, sekitar 30 ribu jiwa dan 205 hektare sawah terdampak banjir tersebut. Pertanyaan besar penyebab banjir oleh sejumlah masyarakat awam terkait hal ini.

Kepala Bidang Sumberdaya Air (SDA) Dinas PU Provinsi NTB, Lalu Kusuma Wijaya, saat ditemui di Mataram, Rabu (15/2) mengatakan, hadirnya bendungan selain menjadi penampung air baku di saat kemarau dan menjadi pembangkit listrik juga didesain sebagai pengendali banjir.

Baca juga : 30.000 Jiwa dan 205 Ha Sawah Terdampak Banjir Taliwang

“Persoalan ini Balai Wilayah Sungai yang tau persisnya, secara teknis pasti kita akan tau seberapa besar yang bisa direduksi dari infrastruktur bendungan ini,” katanya.

Sebuah bendungan, tambah dia, bisa menunda atau memperpanjang debit puncak sehingga bisa menahan terjadinya banjir. Namun ia juga tidak menyalahkan siapa-siapa dalam banjir yang terjadi di Sumbawa Barat, karena hal itu bisa saja terjadi di luar rencana dan prediksi manusia.

Ia menyampaikan sejumlah faktor yang bisa mempengaruhi terjadinya banjir yang harus dicermati walaupun bendungan sudah terbangun, seperti badan sungai yang semakin lama semakin sempit, kapasitas sungai yang menurun diakibatkan oleh sedimentasi sehingga sungai semakin dangkal.

Demikian juga dengan mulut sungai yang menuju ke laut di muara yang mungkin saja semakin lama semakin menyempit dan dangkal. Sehingga hal itu juga akan menghambat dan mempengaruhi kecepatan air mengalir ke laut saat banjir.

Kegiatan masyarakat pun yang tidak ramah lingkungan jika terus dilakukan di hulu sungai, akan menyebabkan kapasitas air masuk ke sungai menjadi semakin banyak karena berkurangnya hutan serapan. Ini menjadi fenomena yang saat ini terus terjadi.

Pertanyaannya, apa gunanya ada bendungan?

Kabid SDA yang ramah dengan semua orang ini mengatakan, bahwa seharusnya bendungan ini bisa mereduksi, meredam dan mengendalikan. Tetapi operasional bendungan sesuai dengan SOP juga harus diperhatikan.

Baca juga : Gubernur NTB Terjun Langsung Bantu Korban Terdampak Banjir Taliwang

“Operasional bendungan juga harus diperhatikan, bagaimana mekanisme nya saat ada laporan intensitas hujan tinggi di hulu sehingga petugas dapat mengoperasikan bendungan dalam kondisi apapun,” katanya.

Sebuah bendungan, tambah Kusuma Wijaya, sudah dirancang sesuai kapasitas, tetapi ada juga kondisi alam di luar dugaan manusia yang bisa saja terjadi di hulu seperti intensitas hujan yang cukup tinggi yang tidak disadari.

“Intinya semua bendungan pasti dirancang dengan kapasitas tampung dan tidak boleh didesain lebih dari kapasitas tampung atau tidak juga lebih rendah,” ujarnya.

Ia meminta masyarakat agar bisa memahami kondisi alam yang terjadi, mungkin ada intensitas hujan yang cukup tinggi di hulu yang tidak diduga. Namun jika SOP pengoperasian bendungan dilaksanakan dengan baik tentu bisa mencegah puncak debit air.

“Tetapi secara teknis ini perlu dijelaskan juga agar masyarakat tidak menganggap bahwa bendungan ini tidak bermanfaat,” jelasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *