Harga Tiket Lombok–Bali Tembus Rp 2 Juta di 2025, Warganet Minta Pemprov NTB Turun Tangan Selamatkan Pariwisata

Salah satu maskapai penerbangan Lombok - Bali (Lion Air) yang paling terjangkau harga tiketnya

Lombok, SIAR POST – Harga tiket pesawat rute Lombok (Praya/LOP) menuju Bali (Denpasar/DPS) pada Agustus 2025 memicu gelombang keluhan dari warganet.

Tangkapan layar dari aplikasi pemesanan tiket seperti Tiket.com dan platform serupa menunjukkan tarif sekali jalan berada di kisaran Rp 1,2 juta hingga di atas Rp 2,4 juta.

Keluhan salah satunya datang dari pengguna Saraa Azahra. Saat diwawancara, ia mengenang masa ketika tiket rute ini hanya dibanderol Rp 270 ribu hingga Rp 300 ribu.

“Sekarang Rp 2 juta pun sulit dapat, bahkan harus hubungi beberapa kolega supaya dapat tiket,” ujarnya. Ia mengaku terkejut dengan sulitnya mendapatkan tiket meskipun harga sudah melambung tinggi.

BACA JUGA : Minim Biaya, Perssoci Lampung Tetap Optimis Ukir Prestasi di FORNAS VIII NTB

Perbandingan ini terasa tajam bila melihat data historis. Pada tahun 2018, harga tiket sekali jalan (kelas ekonomi) untuk rute Lombok–Bali berada di kisaran Rp 500 ribu hingga Rp 1,5 juta, dengan tiket pulang-pergi umumnya berada pada kisaran Rp 1 juta hingga Rp 3 juta.

Bahkan, di pertengahan 2018, promo maskapai berbiaya rendah (LCC) seperti Wings Air dan Lion Air membuat tiket bisa lebih murah dari kisaran tersebut (berbagai sumber).

Memasuki 2019, harga mulai bergerak naik. Data industri menunjukkan tarif sekali jalan berada pada rentang Rp 1 juta hingga Rp 2,2 juta untuk kelas ekonomi, sedangkan tiket pulang-pergi bisa mencapai Rp 4 juta pada periode tertentu.

Maskapai full service seperti Garuda Indonesia dan Batik Air tetap berada di kelas harga tertinggi, sementara promo LCC mulai jarang muncul.

Kenaikan harga tiket domestik sejak akhir 2018 dipicu oleh berbagai faktor, antara lain pelemahan rupiah terhadap dolar AS, kenaikan biaya operasional maskapai, dan penyesuaian tarif layanan bandara (Passenger Service Charge/PSC).

Khusus untuk rute pendek Lombok–Bali, keterbatasan jadwal penerbangan ikut memperparah kenaikan harga karena permintaan sering kali melebihi kapasitas kursi yang tersedia.

BACA JUGA : Wabup Kus Resmi Pimpin Pramuka Lombok Utara, Siap Hidupkan Semangat Generasi Muda

Publik Minta Pemprov NTB Bertindak
Fenomena ini memunculkan kekhawatiran di kalangan pelaku pariwisata dan masyarakat umum. Banyak yang menilai harga tiket yang terlalu mahal akan membuat pariwisata Lombok stagnan, bahkan berpotensi menurun.

Sejumlah warganet dan pelaku industri pariwisata mendesak Gubernur NTB dan Wakil Gubernur NTB untuk mencari solusi.

Usulan yang muncul antara lain menambah frekuensi penerbangan, membuka bandara 24 jam, hingga memberikan insentif bagi maskapai agar kembali membuka promo di rute ini.

“Kalau tiketnya semahal ini, wisatawan bisa memilih tujuan lain yang lebih terjangkau. Lombok akan rugi besar, apalagi kita sedang gencar mempromosikan destinasi wisata,” ujar salah satu pelaku usaha homestay di Senggigi.

Dengan semakin dekatnya musim liburan akhir tahun, publik berharap pemerintah daerah dan maskapai bisa duduk bersama mencari jalan keluar.

Jika tidak, Lombok terancam kehilangan momentum emas untuk memulihkan pariwisatanya pasca-pandemi dan ajang internasional seperti MotoGP Mandalika.

Redaksi NNewsroom Siar post.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *