Pekerja Bangunan MBG di Sumbawa Tersetrum Saat Pasang Atap, Kedua Tangan Diamputasi: Keluarga Bingung Cari Penanggung Jawab

Ilustrasi pembangunan Dapur MBG. (Dok Istimewa)

SUMBAWA, NTB (SIAR POST) — Nasib pilu dialami Adi Putra (43), warga Desa Lenangguar, Kecamatan Lenangguar, Kabupaten Sumbawa. Ia mengalami kecelakaan kerja tragis saat bekerja memasang atap bangunan MBG di desanya.

Akibat tersengat listrik tegangan tinggi, korban kini mengalami cacat permanen setelah kedua tangannya harus diamputasi dan salah satu kakinya mengalami luka serius.

Peristiwa itu terjadi sekitar satu bulan lalu saat korban sedang bekerja di bagian atas bangunan. Menurut penuturan keluarga, saat itu korban memegang besi panjang untuk memasang bagian atap bangunan. Namun tanpa disadari, besi tersebut menyentuh kabel listrik yang berada di atas bangunan.

“Besi yang dipegang korban itu kena kabel listrik tiga di atas. Setelah itu korban langsung terpental dari atas bangunan,” ujar salah satu warga Desa Lenangguar kepada media ini, Sabtu (16/5/2026).

Warga mengaku hingga kini keluarga korban masih kebingungan mencari pihak yang bertanggung jawab atas kecelakaan kerja tersebut.

Pasalnya, pembangunan gedung MBG itu disebut berlangsung tertutup dan tidak diketahui jelas siapa pemilik maupun penanggung jawab proyek.

“Kami bingung mau minta pertanggungjawaban ke siapa. Pembangunan ini sangat tertutup, tidak ada yang mau kasih tahu siapa bos atau perusahaan yang bertanggung jawab,” ungkapnya.

Korban kini telah berada di rumah keluarganya di Desa Lenangguar dalam kondisi memprihatinkan. Selain kehilangan kedua tangan akibat amputasi, korban juga mengalami luka berat di bagian kaki sehingga membuatnya tidak lagi bisa bekerja normal seperti sebelumnya.

Pihak keluarga berharap ada bentuk tanggung jawab kemanusiaan dari pihak pelaksana maupun pemilik proyek pembangunan MBG tersebut. Mereka berharap korban mendapat santunan maupun bantuan modal usaha agar tetap bisa melanjutkan hidup.

“Ini kan cacat permanen seumur hidup. Paling tidak ada bantuan untuk dia buka usaha kecil-kecilan atau warung supaya masih bisa bertahan hidup,” harap keluarga korban.

Menurut warga, posisi kabel listrik saat kejadian sebenarnya dalam kondisi normal dan tidak menjulur ke bawah. Namun lokasi pembangunan disebut terlalu dekat dengan jaringan listrik sehingga berisiko membahayakan pekerja.

Sementara itu, di media sosial Facebook, keluarga korban bahkan telah membuka donasi untuk membantu biaya pengobatan dan kebutuhan hidup korban pasca kecelakaan kerja tersebut.

Dalam unggahan donasi yang beredar, disebutkan korban mengalami luka bakar serius akibat tersengat listrik hingga kedua tangannya harus diamputasi. Keluarga berharap adanya bantuan dan kepedulian masyarakat untuk meringankan beban korban.

Hingga berita ini diterbitkan, belum diketahui secara pasti perusahaan maupun pihak utama yang bertanggung jawab atas pembangunan gedung MBG tersebut. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *