Lombok utara SIARPOST — Pemerintah Kabupaten Lombok Utara menggelar Job Fair 2026 yang digelar dihalaman kantor Dinas penanaman modal pelayanan terpadu satu pintu dan tenaga kerja (DPMPTSP_Naker). Job fair dilaksanakan selama dua hari.dari tanggal 20-21 mei 2026,Acara dibuka secara resmi oleh Wakil bupati Kusmalahadi syamsuri dihadiri sejumlah kepala OPD.
Kegiatan tersebut menghadirkan 32 perusahaan dengan total sekitar 670 lowongan pekerjaan bagi pencari kerja di Lombok Utara dan daerah sekitarnya.
Wakil Bupati Kusmalahadi Syamsuri menegaskan, Job Fair yang digelar saat ini merupakan bagian dari ikhtiar pemerintah daerah untuk terus menekan angka pengangguran yang masih menjadi tantangan di Lombok Utara.
“Ini komitmen kita. Insyaallah tiap tahun tetap kita laksanakan. Tapi ke depan tidak hanya offline, kita akan coba online-kan juga supaya kesempatan kerjanya lebih luas dan tidak terbatas waktu,” ujarnya.
Menurutnya, pola daring akan memungkinkan perekrutan dilakukan lebih fleksibel. Perusahaan tidak harus menunggu event tahunan untuk membuka lowongan, sementara pencari kerja juga bisa mengakses informasi kapan saja.
Langkah itu dinilai penting karena pemerintah melihat masih ada persoalan klasik di lapangan: banyak pencari kerja terlambat mendapat informasi lowongan. Bahkan saat Job Fair berlangsung, masih ada masyarakat yang tidak mengetahui adanya pembukaan rekrutmen.
Karena itu, selain memperkuat sistem digital, pemerintah juga menyiapkan pola pemantauan penyerapan tenaga kerja melalui laporan harian yang terintegrasi di DPMPTSP-Naker.
“Kadang pencari kerja ini belum tahu ada lowongan. Artinya kita memang harus memperkuat sosialisasi dan memperbanyak akses informasi,” kata Kusmalahadi.
Di sisi lain, Pemkab juga mulai menyadari bahwa persoalan pengangguran tidak hanya soal membuka lowongan kerja, tetapi juga kesiapan kemampuan tenaga kerja lokal. Karena itu, Balai Latihan Kerja (BLK) yang baru diresmikan mulai diarahkan untuk menyesuaikan pelatihan dengan kebutuhan industri.
Saat ini, dua program pelatihan sudah berjalan, yakni perbengkelan dan tata rias. Namun pemerintah menilai kebutuhan pasar kerja ke depan jauh lebih besar, terutama untuk peluang kerja luar negeri yang dinilai cukup menjanjikan bagi tenaga kerja asal Lombok Utara.
Kendala terbesar yang ditemukan justru bukan pada minat kerja, melainkan kemampuan bahasa asing, terutama bahasa Inggris.
“Permintaan tenaga kerja luar negeri cukup besar. Kendala kita masih di bahasa. Karena itu nanti kita akan kerja sama dengan beberapa LPK untuk pelatihan bahasa,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala DPMPTSP-Naker Evi Winarni mengungkapkan bahwa sistem Job Fair online nantinya akan memanfaatkan aplikasi “Gili Matra” yang sebelumnya telah diluncurkan pemerintah daerah. Fitur lowongan kerja akan ditambahkan agar masyarakat bisa mengakses peluang kerja secara langsung melalui aplikasi tersebut.
“Nanti semua loker bisa diakses masyarakat lewat aplikasi. Jadi tidak harus menunggu kegiatan offline,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sistem itu juga akan mendukung proses penempatan tenaga kerja luar negeri, termasuk pengurusan dokumen dan koordinasi dengan BP2MI untuk penempatan ke sejumlah negara seperti Yunani dan Jerman.
Pada Job Fair tahun ini, sebanyak 34 perusahaan ikut membuka lowongan dengan total lebih dari 670 posisi kerja. Hingga hari pertama pelaksanaan, tercatat 154 pencari kerja telah mendaftar dan sekitar 63 persen di antaranya berasal dari Lombok Utara.
Pemkab menargetkan mayoritas lowongan yang tersedia bisa diserap oleh tenaga kerja lokal. Tahun lalu, dari sekitar 900 lowongan yang tersedia, sebanyak 70 persen berhasil diisi oleh warga Lombok Utara.
Kini, dengan kombinasi Job Fair tahunan, platform digital, hingga pelatihan keterampilan berbasis kebutuhan industri, Pemkab Lombok Utara tampaknya mulai menggeser strategi penanganan pengangguran dari pola seremonial menuju sistem yang lebih berkelanjutan.(Niss)














