Hal menarik lain dari pendakian bukan hanya soal sampai di puncak. Tetapi tentang orang-orang yang ditemui sepanjang perjalanan.
Di gunung, orang yang sebelumnya tidak saling mengenal bisa tiba-tiba saling menyapa. Ketika ada yang kelelahan, ada yang memberikan semangat. Ketika ada yang membutuhkan bantuan, pendaki lain sering kali tidak ragu mengulurkan tangan.
Sederhana, tetapi berkesan.
Di atas gunung, kita belajar bahwa perjalanan tidak selalu harus dilakukan sendirian. Ada rasa persaudaraan yang tumbuh dari langkah yang sama-sama berat, napas yang sama-sama tersengal, dan tujuan yang sama-sama ingin dicapai.
Bukit Nanggi dan Cerita yang Akan Selalu Dibawa Pulang
Bukit-bukit di Sembalun memiliki cerita masing-masing.
Ada yang jalurnya lebih menantang, ada yang menawarkan savana, ada yang menyuguhkan sunrise, ada pula yang memberikan panorama luar biasa dari ketinggian.
Bukit Nanggi punya semuanya dalam versinya sendiri.
Perjalanan menuju 2.030 MDPL memang membutuhkan tenaga dan persiapan. Tetapi ketika sampai di puncak, melihat savana terbentang luas, merasakan udara dingin, dan menyaksikan Gunung Rinjani berdiri megah, rasa lelah itu terasa seperti bagian kecil dari sebuah perjalanan yang jauh lebih besar.
Dan mungkin, itulah alasan kenapa banyak orang kembali mendaki.














